KABUPATEN SEMARANG – Upaya mengangkat Rawa Pening sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, lingkungan, dan peradaban terus diperkuat melalui kolaborasi berbagai elemen masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan dalam Sarasehan Sastra dan Budaya bertajuk “Geomitologi Rawa Pening dalam Kajian Komparatif Tradisi Mitologi Dunia” yang diselenggarakan oleh Srawung Sareng bersama Yayasan Meira Visi Persada (MVP) di Srawung Sareng, Karang Tegaron, Banyubiru, Sabtu (18/7/2026).

Kegiatan ini menjadi episode pembuka Rawa Pening Heritage Series, sebuah rangkaian program yang mengintegrasikan kajian ilmiah, pelestarian budaya, konservasi lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat. Melalui seri ini, Rawa Pening diharapkan semakin dikenal sebagai kawasan yang tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga menyimpan kekayaan sejarah, sastra, tradisi lisan, dan identitas budaya yang layak diwariskan kepada generasi mendatang.
Sarasehan menghadirkan Setio Widodo, S.S., Pamong Budaya Banyubiru dan Getasan, serta Bogi Subasti, pegiat budaya sekaligus pemerhati Rawa Pening. Jalannya diskusi dipandu oleh Pandhu Wismono, S.S., Kepala Divisi Pendidikan dan Pelatihan Yayasan Meira Visi Persada.
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari berbagai elemen masyarakat. Turut hadir Pandiman, sesepuh sekaligus tokoh adat kawasan wisata Bukit Cinta Rawa Pening, yang selama ini aktif menjaga nilai-nilai tradisi masyarakat sekitar danau. Hadir pula Sri Anggoro Siswaji, Kepala Desa Banyubiru, sebagai bentuk dukungan pemerintah desa terhadap upaya pelestarian budaya dan pengembangan potensi kawasan Rawa Pening.
Acara juga dihadiri oleh Sugiyarti, pelantun tembang dan kidung Jawa sekaligus pelaku seni tradisi, bersama para pemerhati budaya, pegiat seni, pemerhati lingkungan, akademisi, mahasiswa, komunitas, serta masyarakat dari berbagai desa di sekitar Rawa Pening. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa pelestarian Rawa Pening merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan kolaborasi lintas sektor.
Dalam paparannya, Setio Widodo menjelaskan bahwa legenda Rawa Pening tidak semestinya dipahami hanya sebagai cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Di balik kisah tersebut tersimpan pengetahuan mengenai hubungan manusia dengan alam, sejarah kawasan, serta identitas budaya masyarakat yang masih relevan hingga saat ini.
“Rawa Pening bukan sekadar legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di dalamnya terdapat nilai sejarah, budaya, dan pengetahuan yang penting untuk terus dikaji serta dikenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda,” ujar Setio Widodo.
Ia menambahkan bahwa pendekatan geomitologi memungkinkan masyarakat memahami keterkaitan antara bentang alam, sejarah geologi, dan tradisi lisan yang berkembang selama berabad-abad. Melalui pendekatan tersebut, legenda dapat dibaca sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat yang memiliki nilai ilmiah sekaligus budaya.
Sementara itu, Bogi Subasti menekankan bahwa pelestarian Rawa Pening harus dilakukan secara utuh, mencakup aspek lingkungan maupun budaya.
“Pelestarian Rawa Pening bukan hanya menjaga danaunya, tetapi juga menjaga cerita, tradisi, dan ingatan kolektif masyarakat. Ketika narasi budayanya tetap hidup, identitas kawasan ini pun akan terus terjaga,” ungkap Bogi Subasti.
Menurutnya, keberlanjutan Rawa Pening akan semakin kuat apabila konservasi lingkungan berjalan beriringan dengan pelestarian nilai budaya, kesenian, dan tradisi masyarakat yang telah hidup sejak lama.
Sebagai moderator, Pandhu Wismono, S.S. menyampaikan bahwa forum ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan akademisi, budayawan, pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam membangun gerakan bersama.
“Kami berharap forum ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi menjadi awal lahirnya kolaborasi, penelitian, dan gerakan bersama dalam melestarikan budaya serta kearifan lokal Rawa Pening,” jelas Pandhu Wismono.
Diskusi berlangsung interaktif dengan mengangkat berbagai perspektif mengenai sejarah, sastra, geomitologi, lingkungan, hingga pengembangan potensi kawasan berbasis budaya. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa isu pelestarian Rawa Pening semakin mendapat perhatian dari berbagai kalangan.

Melalui Rawa Pening Heritage Series, Yayasan Meira Visi Persada bersama Srawung Sareng berkomitmen menghadirkan rangkaian kegiatan yang mempertemukan akademisi, budayawan, pemerintah, komunitas, pelaku seni, pelaku UMKM, generasi muda, serta masyarakat dalam satu gerakan bersama. Program ini diharapkan melahirkan penelitian, publikasi ilmiah, dokumentasi budaya, penguatan ekonomi kreatif, pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan artifisial (AI) untuk pelestarian warisan budaya, hingga aksi nyata menjaga keberlanjutan kawasan Rawa Pening.
Rangkaian Rawa Pening Heritage Series akan berlanjut dengan berbagai kegiatan tematik sepanjang tahun 2026 dan mencapai puncaknya pada Grand Event Rawa Pening Heritage Series di penghujung tahun. Puncak acara tersebut dirancang sebagai forum kolaborasi yang mempertemukan akademisi, budayawan, pemerintah, komunitas, pelaku seni, dan masyarakat untuk memperkuat posisi Rawa Pening sebagai warisan budaya, warisan lingkungan, sekaligus pusat pengetahuan yang bernilai bagi Indonesia dan dunia.
Dengan semangat “Merawat Alam, Menjaga Budaya, Membangun Peradaban”, Rawa Pening Heritage Series diharapkan menjadi gerakan bersama yang tidak hanya melestarikan kisah tentang Rawa Pening, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai budaya, memperkuat identitas lokal, serta mewariskan pengetahuan kepada generasi mendatang melalui kolaborasi yang berkelanjutan.
